Menavigasi Tantangan Industri Manufaktur Indonesia: INDEF Soroti Risiko Jobless Growth dan Ketimpangan Upah
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menjadi pemateri dalam Seminar Nasional bertajuk “Industri Manufaktur Indonesia Terkini: Menavigasi Tantangan Berdasarkan Indeks PMI”, yang diselenggarakan oleh DPD FSP LEM SPSI Jawa Ba
Dalam paparannya, Rizal memaparkan kondisi terkini sektor manufaktur Indonesia yang masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional, namun menghadapi sejumlah tantangan struktural yang perlu segera diatasi.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjebak dalam “jebakan 5 persen”, di mana fondasi produktif seperti investasi, ekspor, dan kinerja manufaktur belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. “Secara nominal memang terlihat impresif, tetapi kualitas pertumbuhannya belum optimal,” ungkap Rizal.
Lebih lanjut, sektor manufaktur masih menjadi motor utama ekonomi dengan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan investasi nasional. Namun, pertumbuhannya cenderung stabil di kisaran 4–5 persen dan berpotensi menghasilkan jobless growth, yaitu pertumbuhan ekonomi tanpa peningkatan signifikan pada penciptaan lapangan kerja.
Rizal juga menjelaskan bahwa Indeks PMI (Purchasing Managers’ Index) mencerminkan dinamika jangka pendek yang dipengaruhi oleh fluktuasi permintaan global, biaya input, dan kondisi rantai pasok. Oleh karena itu, pergerakan PMI sering kali menunjukkan sinyal yang berbeda dibandingkan dengan tren PDB manufaktur.
Sementara itu, pasar tenaga kerja Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Penyerapan tenaga kerja cenderung didominasi sektor informal dengan kualitas SDM yang belum memadai dan ketimpangan upah yang tinggi. “Kondisi ini membatasi daya saing industri dan menghambat peningkatan kesejahteraan pekerja,” tegasnya.
Sebagai penutup, Rizal menyampaikan sejumlah rekomendasi kebijakan strategis agar sektor manufaktur mampu menjadi lokomotif pertumbuhan inklusif:
-
Memperkuat basis produktif manufaktur melalui investasi berorientasi ekspor, hilirisasi, dan penguatan rantai pasok domestik guna mengurangi ketergantungan impor.
-
Menstabilkan PMI dengan kebijakan pengendalian biaya input (energi, logistik, bahan baku) serta memberikan insentif untuk adopsi teknologi manufaktur 4.0.
-
Mendorong penciptaan kerja berkualitas dengan revitalisasi industri padat karya, peningkatan program vokasi, dan insentif bagi perusahaan yang menyerap tenaga kerja formal.
-
Meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan agar pekerja berpendidikan rendah dapat naik kelas.
-
Mendorong kebijakan pro-pemerataan, termasuk perbaikan struktur upah lintas sektor, pengurangan kesenjangan gender, dan penguatan perlindungan pekerja.
Seminar nasional ini menjadi ruang penting bagi serikat pekerja dan pemangku kepentingan industri untuk memahami arah kebijakan ekonomi nasional dan mencari solusi bersama guna memperkuat sektor manufaktur Indonesia agar lebih tangguh dan berkeadilan.
0 Komentar