Bekasi, 4 Juli 2025, lemtvbekasi.id – Kabar mengejutkan datang dari PT MMF. Perusahaan otomotif tersebut dikabarkan akan menghentikan operasional di Indonesia dan memindahkan produksi ke Thailand serta Jepang.

Isu ini mencuat usai informasi penutupan pabrik diterima pengurus serikat pekerja pada Jumat sore. Merespons hal tersebut, PUK SPLEM SPSI PT MMF bersama DPC FSPLEM SPSI menggelar Rapat Akbar di Gedung GTC FSPLEM SPSI, Senin (4/7/2025).
 
Pertemuan ini dihadiri jajaran DPC, antara lain Hadi Maryono (Ketua DPC), Danudin, Samsul Huda, Kartono (Tim Advokasi), Agung, Rohmat (Bid. Organisasi), Eko (Bid. Pendidikan dan Pengembangan), Nur W. (Bid. Kesejahteraan), Endang (LBH), seluruh pengurus PUK, dan anggota.
 
Produksi Anjlok, Karyawan Banyak Dipensiunkan
Ketua DPC, Hadi Maryono, menjelaskan bahwa penurunan produksi terjadi setelah adanya perselisihan dengan TKA, munculnya serikat pekerja baru, hingga turunnya pesanan. “Sekarang kita harus pastikan apakah ini benar penutupan permanen, penjualan, atau sekadar pemindahan produksi,” tegasnya.
 
Ketua PUK, Muhamad Husen, menambahkan bahwa produksi PT MMF sudah turun hingga 60%, bahkan pada 2024 banyak karyawan yang dipensiunkan. “Saya menolak keputusan mendadak ini. Lawyer perusahaan sudah menyiapkan alur penutupan dengan deadline satu bulan,” katanya.
 
LBH Ingatkan Proses Hukum
Perwakilan LBH, Endang, mengingatkan bahwa penutupan pabrik tidak bisa dilakukan instan. “Bukan hanya soal pesangon. Penutupan butuh proses, dan pekerja harus siap secara mental menghadapi dampaknya,” ujarnya.
 
Rapat Akbar ini menjadi langkah awal menyusun strategi serikat pekerja menghadapi ancaman penutupan PT MMF, sekaligus memastikan seluruh hak pekerja tetap terlindungi.